Cari
  • Waroeng Kemarang

Sendratari "TEMURUNE DEWI SRI" Siap dijual di Waroeng Kemarang Banyuwangi

Sebuah karya seni drama dan tari (sendratari) baru telah tercipta di Banyuwangi, yaitu Sendratari yang berjudul Temurune Dewi Sri. Karya seni yang ditampilkan sekitar 45 menit, secara live, dengan iringan penuh musik tradisional Osing Banyuwangi ini, Hak Karya Cipta Intektualnya dimiliki oleh KOPAT (Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi), dengan Koreografer Subari Sofyan. Sedangkan Hak Tayang live dan online dimiliki oleh Waroeng Kemarang Banyuwangi.


Pelatihan sendratari dilakukan selama 20 kali pertemuan, di Aula Villa Kemarang, didukung penuh oleh Badan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banyuwangi. Nara sumber pelatihan sendratari adalah terdiri dari berbagai ahli di KOPAT, yang membuat karya sendratari mengacu kepada etimologi, peninggalan artefak, doa-doa dan gending-gending lama yang mendukung, antara lain adalh: Titin Fatimah - ahli cagar budaya, Sanusi - ahli adat tradisi, Thomas Raharto - ahli sejarah, Aekanu - ahli seni budaya dan pariwisata, dll.


Ketua KOPAT, Ir. Wowok Meirianto, MT., mengatakan bahwa, ide penciptaan dan pelatihan karya seni sendratari ini berawal dari ketika kami bertiga: Bpk. Sugirah - Wakil Bupati, Bpk. Rusman - Kepala BPVP Banyuwangi, dan saya ketemu di pelatihan Tennis Junior beberapa bulan yang lalu, dimana Pak Rusman menawarkan untuk mendukung dana untuk pelatihan, dan Pak Wabub Sugirah mengusulkan Pelatihan Seni Budaya di Waroeng Kemarang. Dari situlah Pelatihan Sendratari Temurune Dewi Sri diselenggarakan.


Hari Minggu, 2 Oktober 2022, Jam 16:30 WIB, yang lalu, Sendratari Temurune Dewi Sri ditampilkan untuk yang pertamakali di Panggung Omprok Gandrung Terbesar di Waroeng Kemarang, dengan penonton lebih dari 200 orang, terdiri dari anggota KOPAT, Dewan Kesenian Blambangan (DKB), PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia) Banyuwangi, Dinas Pariwisata, AMAN, dll. Hadir juga dalam penampilan perdana, selain Wakil Bupati dan Kepala BPVP, antara lain: Kepala Desa Tamansuruh, Camat Glagah, Kepala BAKESBANGPOL.


Koreografer Subari Sofyan mengatakan, sendratari Temurune Dewi Sri ini terdiri dari 4 sesi yang mengisahkan suka-duka petani suku Osing Belambangan kuno, yaitu:


1. LINGSIR DALU

Keinginan Masyarakat Petani Belambangan, dalam melakukan cocok tanam padi, agar mendapatkan hasil yang baik dan berlimpah, diliputi rasa tidak menentu, oleh karena ketidak pastian bibit padi dan kesuburan sawah. Mereka mengharapkan kepada tokoh masyarakat/sesepuh mereka, untuk menjembatani harapannya agar bisa terkabul. Doa permohonan ditampilkan dalam bentuk Pujaan yang berjudul: Yang, atau (Yang Maha Kuasa).


2. TEMURUNE DEWI SRI

Dari permintaan masyarakat, kepada yang maha kuasa, melalui tokoh masyarakat, maka terwujudlah yang diharapkan, yaitu turunlah sang Dewi Sri, memberikan benih-benih, padi, yang bernama Padi Genjah Arum. Sang Dewi turun dari kayangan, menunggangi kendaraan yang nernama Barong, yaitu sosok berkepala singa, bersayap, bermahkota dan berkubah, bernama Sinar Udara. Masyarakat menyambut dengan sukacita, atas turunnya padi telah disebarkan oleh Sang Dewi Sri. Masyarakat bergegas menanam benih padi sampai merawat dan menuai dengan Tradisi yang bernama Labuh Nyingkal, Labuh Tandur, Ngrujaki, Nggetaki Manuk, dls. Dengan kegembiraan tersebut, masyarakat sangat bersukacita oleh karena tumbuhnya padi yang sangat subur. Tidak lupa mereka menyajikan karya tari yang berjudul Tari Bedayan Munari. Menjelang akan pelaksanaan panen raya masyarakat bersukacita menari bersama, dengan lantunan-lantunan gending khas Banyuwangi, dan dengan rasa antusias dan optimis hasil panenannya akan melimpah.


3. SEBLANG-SEBLANGAN

Mengisahkan rasa syukur atas panenan yang melimpah, masyarakat menggelar acara yang bernama SEBLANG-SEBLANGAN, yang juga biasa disebut Ider bumi. Penari perempuan berpakaian busana seblang, asesoris kepala terbuat dari rangkaian daun pisang muda (pupus) dirangkai dengan apik, diberi aksen aneka ragam bunga-bungadari sekitar persawahan. Menari dengan keadaan tranch (kesurupan).


4. PANEN

Masyarakat bersukacita melaksanakan panen raya, memetik padi, menjemur, dan mengemas, saampai siap untuk disimpan di lumbung padi. Kemudian, dengan panenan simpanan padi berlimpah, mereka mengundang penari gandrung dengan rasa syukur, atas keberhasilan Dewi Sri yang memberikan hasil berlimpah.


5. UMBUL-UMBUL BELAMBANGAN

Masyarakat bersukacita melantunkan lagu kebesaran Belambangan, seperti: Umbul-umbul Belambangan, yang dibawakan secara Bersama-sama dengan penuh semangat dan sukacita.

Dengan telah selesainya pelatihan dan selesainya launching, maka sekarang Sendratari Temurune Dewi Sri telah siap untuk ditampilkan atau ditawarkan kepada turis lokal, nasional, dan luar negeri yang ingin menyaksikan karya seni drama tari kahs suku Osing Banyuwangi ini. (WOK/10-Okt-2022)








170 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Kemarang News